Pertengahan Maret lalu, saya ikutan acara Family Gathering braders di HTML-Bogor.
Seperti biasa, kita kumpul di tempat kopdar, yaitu di parkiran seberang Rumah Sakit Salak di jalan Sudirman.
Setelah peserta kumpul (gak banyak, hanya sekitar 7 motor, karena rombongan dibagi-bagi dalam beberapa klotur), maka kami pun siap-siap berangkat, dengan didahului briefing mengenai rute, susunan barisan dan berdoa bersama.
Di perjalanan, saya merasakan ‘kekikukan’ yang luar biasa saat mencoba untuk tetap mengikuti rombongan. Satu hal, karena situasi lalin yang amat sangat padat (dan kacau-balau … paham dong gimana crowded-nya jalanan di kota Bogor pas weekend … hehe). Kedua, mungkin karena ini adalah untuk pertama kalinya saya ikut group riding lagi, setelah hampir 2 tahun full merasa (lebih) enjoy dengan solo riding.
Dari situ saya menarik kesimpulan, bahwa group riding itu bukan hanya semata urusan skill dan jam terbang momotoran kita, tapi juga lebih ke ‘pembiasaan’ untuk berjalan dalam satu rombongan. Semakin sering kita group riding, maka akan semakin terbiasa kita dengan berbagai faktor X yang mungkin muncul sepanjang perjalanan.
Salah satu faktor adalah mengatur ego kita. Kapan kita kadang (terpaksa) harus mendahului teman satu rombongan (dalam kondisi jalan macet dan awut-awutan), dan kapan kita harus ‘mengalah’ untuk memberi jalan pada teman riding kita. Walaupun secara teori, setiap rider harus ‘patuh’ pada susunan barisan yang sudah ditetapkan sebelumnya pada saat briefing (kembali, ini teorinya, namun pada prakteknya selalu berubah di perjalanan … hehe).
Belum lagi perhatian yang terpecah, untuk mengawasi teman di belakang (apakah dia terhenti karena terhalang kendaraan lain, ataukah ada trouble di motornya, dsb).
Juga karena secara pribadi, saya punya prinsip bahwa pada saat menyalip, kita harus pastikan bahwa rider di belakang punya space yang juga cukup untuk mendahului.
Kesimpulan akhir yang saya dapat, secara pribadi saya merasa bahwa sepertinya solo riding (memang) jauh lebih enjoy buat saya dalam sebuah perjalanan. Karena ritme perjalanan kita yang atur, sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kita sendiri. Kapan mau jalan santai, ataupun kapan mau gas pol.
Walaupun jujur, kadang kangen juga pengen group riding jauh seperti dulu. Salah satu yang bikin kangen adalah ngeliat peserta rombongan nikung dan rebah satu demi satu, bener-bener sebuah pemandangan yang nikmat ntuk dilihat
.
Oh ya, satu lagi alasan kenapa sekarang ini saya lebih enjoy dengan solo riding adalah karena konsentrasi mengemudi saya gak perlu ‘terganggu’ dengan suara menguing panjang ataupun sekadar bunyi tot-tot dari sirene rekan satu perjalanan …
.
































enakan solo ride oom, lebih nyaman nikmtain perjalanan
Sepakat banget utk sepakat dgn poin terakhir. Krn kita sendiri yg nentuin ritme perjalanan
enak solo,,,,tapi kesepian,,,,
Iya, bro. Ada kelebihannya, ada kekurangannya.
Kalo problem utama sy solo riding … Gak tau jalan D. Jadi bakal sering2 pake CPS (Colek Positioning System) alias nowel orang di inggir jalan buat nanya arah huehehehe
suka dengan solo riding, tapi lebih suka kalo duet sama teman dengan cc motor yang sama atau hampir sama. kalo ada salah satu yg mulai ngantuk, ajakin duel..
pasti semangat lagi… 
salam kenal…
hehe… betoeeell, masbro. problem utama solo ride yaa ngantuk atau bosen alias bete.
masing2 punya seni dan kenikmatan tersendiri
tapi skrg, saya lag seneng solo ride.
alasan utama: gak mau ganggu pengguna jalan lain dengan rombongan yg panjang, bunyi sirene, dsb
kayaknya lebih enak solo riding dechhhh
yup!!!! setujuh …!
Enaknya ada partner, entah itu satu motor lain atau partner boncengan…
)
(Tapi bonceng cewek ya
hehe… se0umur2, sy cuma pernah 2X turing bonceng cewek.
Hasilnya?
Yg pertama, pas pulang pamit duluan naik travel
Yg kedua, di tengah jalan pulang, dia nangis krn kecapekan …