Masih inget stori gw solo turing ke Jogja kemaren …? Sebenernya, pada saat mau berangkat, beberapa kelim penutup ujung knalpot si hitam udah pada ’mrotol’ (baca: lepas dan kendur). Berhubung ngeh-nya di malam sebelum keberangkatan, otomatis gak ada waktu untuk ngebenerin. Putar akal sebentar, ambil lakban hitam tebal, bungkus sekelilingnya. Problem solved! Terbukti, sepanjang lebih dari 1000 km perjalanan, knalpot tetap aman-terkendali
.
Tapi namanya juga akal-akalan, teteup aja gak bakal abadi. Karena minggu lalu, akhirnya si ujung knalpot copot dengan suksesnya, di tengah perjalanan gw menuju Jakarta. Walhasil, glasswool Yoshimura barengan dengan saringan knalpotnya berhasil terjun bebas di jalan raya Bogor
. Terpaksa deh beli knalpot baru di toko langganan di daerah Cibubur
.
Pertanyaannya sekarang, mau di-apa-in knalpot lama gw itu? Yang pasti, leher knalpot bakal tetep gw simpan. Siapa tau besok-besok dapet muffler baru yang lebih bagus. Jadi gak repot-repot mesti nyari leher baru. Iya khan?
. Nah, terus muffler lamanya mau dikemana-in? Di ’lembiru’, pastinya iya sih. Tapi sebelum beneran di bumi hangus-kan, kenapa gak coba di-oprek dulu? Karena kebetulan, dulu banget gw pernah punya rencana untuk bikin muffler tanpa glasswool.
Maka gw bawalah muffler tersebut ke workshop. Diskusi panjang lebar dengan kepala workshop, akhirnya kita sepakat untuk bongkar knalpot. Ide awalnya sih simpel aja, mengambil dari sistem exhaust M40 yang dulu juga pernah gw bongkar dan reparasi.
Secara hitung-hitungan rasio (yang lebih banyak kira-kiranya … hehehe), seharusnya sistem exhaust di mobil bisa diaplikasikan ke muffler gw ini. Perkiraan kita, suara akan jadi lebih halus (gak nge-bass seperti di knalpot ber-glasswool pada umumnya). Tapi gimana dengan tarikannya? Apa tetap bisa nendang? Atau malah ngempos …? Hmmm ….
Biar gak semakin penasaran, langsung aja kita bongkar tuh muffler. Dengan pengerjaan yang memakan waktu 3 hari (bongkar, setting, pasang, bongkar, setting, pasang dan bongkar lagi … hehehehe), akhirnya ketemu juga settingan yang (IMHO) pas:
SUARA: lebih halus, alias gak lagi ’bikin tetangga pengen nimpuk kalo kita pulang malam-malam’
. Suara bass baru muncul saat gas ditarik. Cuma memang tidak se-dalem suara bass pada knalpot ber-glasswool (bahan untuk eksperimen berikutnya nih … hehehehe)
AKSELERASI: Tarikan awal lebih baik dari knalpot lama gw, tarikan menengah pun tetap dapat. Satu-satunya yang belum bisa (sempat) gw coba adalah tarikan atas. Karena gw belum sempat nyoba di jalur yang cukup panjang
KEAWETAN: belum bisa diukur, karena project ini baru berjalan. Kalo dari perkiraan berdasarkan bahan baku yang digunakan, mestinya bisa tahan 1-2 tahun, karena untuk daleman knalpot kita pakai plat galvanisyang tahan karat. Tapi satu yang pasti, gak perlu bolak-balik ganti glasswool setiap 6 bulan sekali
.
Catatan:
Mohon maaf, berdasarkan company policy (hehehehe), gw gak bisa kasih detil teknis pengerjaannya. Maksud gw ukuran , jumlah serta diameter lubang, jumlah sekat, dsb
.









































0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.